Senin, 27 September 2010
Soal UTS Metode Penelitian
Mata Kuliah : Metode Penelitian
Dosen : M Izman Herdiansyah MM, PhD/Dr.Dedi Rianto, MM
Nama Mahasiswa : Nazaruddin
Kelas : Reguler A
NIM : 10251026D
Universitas : Bina Darma Palembang
SOAL UJIAN MID SEMESTER METODE PENELITIAN
1. Uraikan dengan jelas langkah-langkah dalam membuat desain percobaan!
2. Apa yang dimaksud dengan “sampling metdhod “? Ada berapa jenis sampling method yang Saudara ketahui ? jelaskan masing-masing!
3. Bagaimana Saudara melakukan pengukuran data?jelaskan dan beri contoh!
4. Seorang peneliti harus melakukan sendiri pengamatan penelitiannya.Jelaskan mengapa harus demikian dan berikan contoh!
5. Peneliti boleh salah namun tidak boleh bohong. Uraikan pernyataan tersebut sejauh pengetahuan Saudara!
6. Apa yang anda ketahui tentang analisis factor, berikan contoh.
Dikumpulkan lewat blog masing-masing kemudian link ke blog dedi1968.multiply.com
Dikumpulkan tanggal 27 september 2010
JAWABAN
Soal No. 1
Desain percobaan adalah untuk memperoleh keterangan yang maksimum mengenai cara membuat percobaan dan bagaimana proses perencanaan serta pelaksanaan percobaan akan dilakukan. Design percobaan sangat diperlukan dalam melakukan penelitian eksperimental
Langkah-langkah membuat desain percobaan
Dalam membuat desain percobaan, maka perlu dibuat chek list tentang :
1.Mencari penjelasan tentang :
Cakupan area dari masalah yang akan diteliti
Identifikasi masalah serta batasan masalah.
Batasan atau jangkauan dari program serta perencanaan percobaan tersebut.
Menentukan hubungan dari masalah yang khas dengan masalah keseluruhan.
2. Kumpulkan keterangan yang tersedia
Mencari semua data dan keterangan dari sumber-sumber yang ada tentang masalah serta percobaan yang kan dibuat.
Catat dan tabulasikan data yang ada hubungannya dengan percobaan yang akan dilakukan.
3. Buat program mengenai desain percobaan.
Membuat rumusan hipotesa yang mau diuji. .
Memilih variabel-variabel yang mau diuji.
Membuat alternatif hasil yang akan dicapai
Pemilihan range yang praktis dari faktor-faktor tersebut dan level yang akan digunakan.
Menentuan ukuran yang digunakan
Pertimbangan tentang kemungkinan-kemungkinan adanya interaksi.
Pertimbangan-pertimbangan adanya hubungan yang konkrit tentang interaksi manusia dengan komputer.
4. Rancang program pendahuluan.
Membuat jadwal yang sistematik tentang pekerjaan yang akan dilakukan.
Membuat kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadinya perubahan jadwal pekerjaan.
Menghilangkan pengaruh-pengaruh variabel yang tidak diinginkan dengan mengadakan kontrol randomisasi dan balancing.
Memilih satu metode algoritma untuk memudahkan percobaan .
5. Recanakan pelaksanaan percobaan. .
Memilih algoritma material serta alat-alat yang digunakan.
Melaksanakan metode dengan algoritma yang dipilih
Mencatat segala modifikasi yang dilakukan
Mengumpulkan data secara hati-hati
6.Analisa data
Data yang dicatat perlu diubang menjadi angka dengan menggunakan teknik matematika dan statistik yang cocok.
Soal No.2
Yang dimaksud dengan sampling methode atau teknik pengambilan sampel adalah cara yang digunakan peneliti untuk menentukan sampel penelitian agar penelitian dapat dipercaya dan masih bisa mewakili karakteristik populasi penelitian.
Ada dua jenis teknik pengambilan sampel yaitu,
1. Sampel acak atau random sampling / probability sampling, random sampling adalah cara pengambilan sampel yang memberikan kesempatan yang sama untuk diambil kepada setiap elemen populasi. Artinya jika elemen populasinya ada 100 dan yang akan dijadikan sampel adalah 25, maka setiap elemen tersebut mempunyai kemungkinan 25/100 untuk bisa dipilih menjadi sampel. Pada sampel acak (random sampling) dikenal dengan istilah simple random sampling, stratified random sampling, cluster sampling, systematic sampling, dan area sampling.
2. Sampel tidak acak atau nonrandom samping/nonprobability sampling. Yaitu cara pengambilan sampel dimana setiap elemen populasi tidak mempunyai kemungkinan yang sama untuk dijadikan sampel. Lima elemen populasi dipilih sebagai sampel karena letaknya dekat dengan rumah peneliti, sedangkan yang lainnya, karena jauh, tidak dipilih; artinya kemungkinannya 0 (nol). Pada nonprobability sampling dikenal beberapa teknik, antara lain adalah convenience sampling, purposive sampling, quota sampling, snowball sampling
Soal No. 6
Analisis Faktor Analisis faktor adalah salah satu metode statistik multivariat yang mencoba menerangkan hubungan antar sejumlah peubah-peubah yang saling independen antara satu dengan yang lain sehingga bisa dibuat satu atau lebih kumpulan peubah yang lebih sedikit dari jumlah peubah awal. Analisis faktor juga digunakan untuk mengetahui faktor-faktor dominan dalam menjelaskan suatu masalah.
Contoh : Untuk meneliti tentang hubungan motivasi kerja dan suasana kerja terhadap kepuasan kerja karyawan dalam suatu perusahaan. Maka peneliti mencari hubungan antara motivasi kerja dan sasana kerja sebagai variabel dependen dengan vaiable lain yaitu kepuasan kerja karyawan sebagai vaiable independen
Soal No. 4
Seorang peneliti harus melakukan sendiri peneliannya, menurut pendapat saya :
a. Bahwa hakekat penelitian adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data/informasi sebagaimana adanya dan bukan sebagaimana seharusnya, dengan tujuan dan kegunaan tertentu, karena penelitian itu dilakukan dengan cara yang rasional, yaitu masuk akal dan sesuai dengan penalaran manusia, empiris yaitu dengan melakukan pengamatan dengan panca indera yang sesuai dengan ciri-ciri keilmuan dan sistematis atau dengan teratur, logis dan terencana. Kemudian data yang diperoleh dari hasil penelitian harus valid atau tepat dan benar, realibel atau konsisten dalam interval tertentu dan harus berisfat obyektif atau sesuai dengan fakta yang ada
b. Untuk itu, agar penelitian dilakukan dengan benar, data yang diperoleh adalah data yang valid, realibel dan obyektif serta analisis data menggunakan metode analisis yang tepat sehingga menghasilkan hasil penelitian yang ilmiah, maka peneliti harus melakukan sendiri atau bekerja sama dengan orang lain sebagai tim
c. Apabila penelitian tidak dilakukan sendiri oleh peneliti, dikhawatirkan cara penelitian tidak benar, data yang diperoleh tidak benar, maka hasil penelitian bukan penelitian ilmiah, tetapi hasil rekayasa yang akan merugikan sang peneliti sendiri karena menyebarkan kebohongan kepada semua orang yang membaca hasil penelitiannya.
Soal No. 5
Seorang Peneliti tidak boleh bohong, pendapat saya :
1. Kebohongan peneliti mungkin terjadi :
a. Peneliti menggunakan metode penelitian tidak yang lazim digunakan atau dibuat sendiri secara sepihak oleh peneliti
b. Data hasil pengamatan, wawacara dan observasi yang dibuat sendiri / ditentukan atau diatur sendiri oleh peneliti untuk kepentingan peneliti sendiri tanpa melakukan proses penelitian
c. Melakukan Analisis data hasil penelitian harus dilakukan dengan metode tidak yang benar dan merubah data untuk kepentingan peneliti sehingga dapat menentukan hasil analisis data penelitian
2. Apabila terjadi kebohongan dalam penelitian maka hasil penelitian dapat dikatakan hasil penelitian bukan penelitian ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan
3. Dapat merugikan semua pihak, terutama orang yang membaca hasil penelitian, institusi tempat peneliti bernaung dan pihak lain karena hasil penelitian penuh kebohongan dan hasil penelitian tidak ada manfaat bagi orang banyak.
Soal No.3
Pengukuran merupakan kegiatan yang penting untuk mengukur obyek yang diamati atau diobservasi agar pengamatan dan peneltian dilakukan dengan baik dan benar. Dalam kegiatan penelitian, sebelum melakukan observasi terhadap variabel yang akan diukur, lazimnya perlu menentukan tingkat (skala) pengukurannya (scale of measurement). Hal ini menjadi penting dilakukan karena tingkat pengukuran bertujuan menghasilkan data kuantitatif yang akurat, maka setiap istrumen harus mempunyai skala.
Tenik pengukuran :
Ada beberapa macam teknik skala yang bisa digunakan dalam penelitian. Antara lain adalah: Skala Linkert, Skala Guttmann, Skala Bogardus, Skala Thurstone, Skala Semantic, Skala Stipel, Skala Paired-Comparison, Skala rank-Order. Dalam hal ini yang sering digunakan adalah skala Likert, maka saya memberikan contoh dalam skala Likert sbb :
Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau kelompok orang tentang fenomena sosial. Dalam penelitian, fenomena sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti, yang selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian.
Dengan skala Likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan, baik bersifat favorable (positif) bersifat bersifat unfavorable (negatif).
Jawaban setiap item instrumen yang mengunakan skala Likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yang berupa kata-kata antara lain dan diberi skor setiap jawaban :
a. Sangat Setuju, diberi skor 5
b. Setuju, diberi skor 4
c. Ragu-ragu, diberi skor 3
d. Tidak Setuju, diberi skor 2
e. Sangat Tidak Setuju. diberi skor 1
Atau :
a. Sangat Baik, diberi skor 5
b. Baik, diberi skor 4
c. Ragu-ragu, diberi skor 3
d. Tidak Baik, diberi skor 2
e. Sangat Tidak Baik. diberi skor 1
Contoh bentuk pilihan ganda
Berilah salah satu jawaban terhadap pernyataan berikut sesuai dengan pendapat Anda, dengan cara memberi tanda lingkaran pada nomor jawaban yang tersedia.
Kepala sekolah harus melakakukan kunjungan kelas untuk menilai cara guru dalam mengajar di kelas :
a. Sangat Setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak Setuju
e. Sangat Tidak Setuju
Jumat, 11 Juni 2010
Makalah
Hambatan dalam Penerapan e-Education
di SMK Negeri 1 Banyuasin
Untuk memenuhi Ujian Akhitr Semester
Mata Kuliah Manajemen Sistem Informasi
Program Magister Manajemen
Universitas Bina Darma Palembang
Disusun Oleh :
NAZARUDDIN
NIM : 10251026 D
Mahasiswa Magister Managemen
Universitas Bina Darma Palembang
I. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Pesatnya kemajuan teknologi komunikasi, media dan informatika, serta meluasnya perkembangan infrastruktur informasi global telah mengubah pola dan cara kegiatan yang dilaksanakan di berbagai bidang baik di bidang pendidikan, industri, perdagangan, dan pemerintahan maupun sosial politik. Perkembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat informasi telah menjadi paradigma global yang dominan. Kemampuan untuk terlibat secara efektif dalam revolusi jaringan informasi akan menjadi daya pendorong dalam mendukung kegiatan di berbagai bidang.
Di lingkungan pendidikan, penerapan Teknologi Informasi dalam kegiatan belajar mengajar, sebagai fasilitas pendukung, merupakan landasan dalam membangun lingkungan e-Education / e-Learning. Dengan dijalankannya e-Learning, perkembangan pendidikan terbuka untuk model belajar jarak jauh (Distance Learning).
Kemudahan untuk menyelenggarakan pendidikan terbuka dan jarak
jauh perlu dimasukan sebagai strategi utama e-Learning. Sharing resource bersama antar lembaga pendidikan / latihan dalam sebuah jaringan. Perpustakaan & instrumen pendidikan lainnya (guru, laboratorium) berubah fungsi menjadi sumber informasi daripada sekedar rak buku. Akses internet , penggunaan perangkat teknologi informasi interaktif dan multimedia dalam pendidikan, secara bertahap akan membantu kelancaran kegiatan belajar mengajar yang akan mengoptimalkan e-Education / e-Learning. 
Peserta didik harus dipersiapkan sedini mungkin agar mereka memiliki bekal untuk menyesuaikan diri dalam kehidupan global. Untuk menghadapinya diperlukan kemampuan dan kemauan belajar sepanjang hayat dengan cepat dan cerdas. Hasil-hasil teknologi informasi dan komunikasi banyak membantu manusia untuk dapat belajar secara cepat.
Pada dasarnya ICT ini telah dilaksanakan yang dilaksanakan melalui pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dari tingkat SMP dan SMA, namum penerapan dalam pembelajaran di sekolah hanya sebatas penerapan kurikulum belaka, tanpa ada benefit berarti dari pembelajran yang dilaksanakan. Selain itu juga institusi pendidikan banyak menemui berbagai kendala diantaranya adalah keterbatasan sarana, fasiltas dan guru yang ahli dalam bidang Komputer dan paradigma pendidikan yang masih konvensional. Sehingga kenyataannya pembelajaran ICT memang di terapkan di sekolah, tetapi ada yang hanya mengajarkan hanya teori saja, tanpa praktek penggunaan tenologi komputer dan penggunaan internet.
2. Visi, Konsep Dan Tujuan
Visi dasar pembangunan e-Education /e-Learning perlu ditelaah lebih lanjut dalam perencanaannya, sehingga pengembangan dan pelaksanaan e-Education / e-Learning dapat berjalan secara bertahap dan terintegrasi.
Dengan diterapkannya e-Education dan e-Learning, kekurangan infrastruktur pendidikan secara fisik dapat diatasi, sehingga pemerataan pendidikan dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas. Hal ini bertolak dari kenyataan bahwa penyediaan fasilitas-fasilitas fisik menjadi beban yang tidak ringan bagi pengelola pendidikan. Disini e-Education memberi peluang untuk melakukan penghematan dan penataan finansial secara terintegrasi.
Pemenuhan terhadap tuntutan standart kualitas pendidikan dapat dilakukan melalui pembangunan lingkungan e-Education/e-Learning di mana lembaga yang memiliki kurikulum pendidikan yang standart dan berkualitas dapat diakses oleh siapa saja yang membutuhkan. Memang disatu sisi sejumlah sekolah yang masih lemah kurikulumnya akan terancam keberadaan dengan terciptanya sistem pendidikan virtual ini. Namun daerah lain yang masih mengalami kesulitan dalam menyediakan sarana pendidikan berkualitas, e-Education/e-Learning menjadi solusi konkrit yang standart dan murah.
Dengan diterapkannya e-Education sebuah sekolah dapat lebih mudah beradaptasi dengan perkembangan terakhir dunia pendidikan melalui model e-Education ini, karena perubahan dan penyesuaian materi pendidikan dapat dilakukan dengan mudah dan jauh lebih murah dibandingkan dengan model sekolah tradisional.
Dalam lingkungan e-Education, kecepatan transfer dan distribusi ilmu pengetahuan dan teknologi sangat cepat. Setiap saat materi pendidikan baru dapat segera disajikan. Sementara itu melalui jaringan global, informasi tentang materi itu dapat terdistribusi sampai ke kota-kota kecil hanya dalam hitungan menit dan detik.
II. PEMBAHASAN
1. Problem Penerapan e-education di Sekolah
Dalam penerapan e-education di sekolah masih banyak menghadapi problem yang cukup menyulitkan, sehingga timbul kecendrungan untuk tidak melaksakan sistem ICT dan lebih suka dengan sekolah konvensional. Diantara problem tersebut diantaranya :
A. Kapasitas Institusi Pendidikan yang terbatas
Lembaga pendidikan yang ada, terutama di luar kota besar selalu dihadapkan pada masalah sebagai berikut :
1. Tenaga Pendidik
Guru yang kompeten dalam Information Communication Technologi (ICT) masih langka. Akibatnya, pembelajaran berbasis ICT tidak dapat berjalan optimal, karena diajarkan oleh guru yang bukan ahlinya atau hanya diajarkan oleh guru yang mau dan sedikit tahu tentang ICT. Harapan untuk menyiapkan anak didik dapat belajar banyak dan mendalami ICT sebagai bagian dari pembelajarn seumur hidup tidak dapat terwujud. Pembelajaran hanya sekadarnya saja, hanya untuk memenuhi tuntutan kurikulum.
Namum untuk SMK Negeri 1 Banyuasin, 3 bulan terakhir baru ada guru yang memiliki kompetensi dalam ICT sehingga belum memberikan kontribusi nyata bagi pembelajaran di SMK Negeri 1 Banyuasin.
2. Fasilitas dan sarana prasarana
Sudah menjadi rahasia umum, setiap institusi pendidikan dihadapkan masalah kekurang Fasilitas & Sarana prasarana pendidikan, apalagi untuk fasilitas ICT yang konon masih tergolong barang mewah dan sulit dalam pengamanan. Terbanyanglah kondisi pembelajaran berbasis ICT di sekolah dengan ketiadaan fasilitas ICT yang up to date. Kondisi ini tidak jauh berbeda di SMK Negeri 1 Banyuasin yang belum memiliki sarana prasarana dan fasilitas ICT yang sangat di perlukan dalam penerapan e-education.
B. Dinamika Karakteristik Pendidikan
Dalam institusi Pendidikan ada hal-hal yang mempengaruhi pembelajarn berbasis ICT selain sumber daya manusia dan sarana, ada beberapa faktor yang ikut berperan dalam keberhasilan pendidikan yang selalu berubah, berkembang dari waktu ke waktu antara lain :
1. Ilmu pengetahuan yang berubah dengan cepat
Dengan menglobalnya dunia dewasa ini, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang berkembang pesat seiring dengan kebutuhan manusia yang berkembang dan meningkat tanpa ada yang bisa membendungnya. Hal initidak diikuti oleh institusi pendidikan terutama tingkat dasar dan menengah, yang masih berkutat pada belajar di kelas, buku literatur yang usang, metode pembelajaran konvensional dan kurikulum yang kaku. Di SMK Negeri1 Banyuasin, masih terasa nuasa konvensional dalam proses pembelajarannya, sehingga Penyerapan Ilmu Pengetahuan dan teknologi masih terbatas dan cenderung masih tertinggal.
2. Kebutuhan belajar seumur hidup (life-long learning)
Penerapan e-Education merupakan penerapan belajar seumur hidup, mengandung makna bahwa belajar dapat dilakukan kapan saja, dimana saja, dari mana saja, oleh siapa saja. Proses belajar tidak harus di sekolah sebagai pusat pembelajaran, tetapi peserta didik juga dapat belajar dari lingkungan sekitar, rumah, media massa, dunia maya dan sumber belajar lainnya. Faktor ini masih merupakan suatu yang aneh bagi siswa di SMK Negeri 1 Banyuasin, karena bagi mereka belajar dan ilmu pengetahuan belum merupakan suatu kebutuhan layaknya makan, minum, pakian dan rumah. Belajar hanya sesuatu yang ada di sekolah dan tujuan untuk memperoleh selembar Ijazah dan dapat diterima bekerja untuk menghasilkan uang.
3. Kebutuhan berinovasi
Perkembangan dunia sangat pesat, seharusnya diiringi dengan kegiatan-kegiatan yang inovatif atau membuat sesuatu yang baru, agar dapat bertahan dan ikut dalam persaingan. Dengan ilmu pengetahuan yang luas dan mendalam ditambah penguasaan ketrampilan dan teknologi, dapat membuat penemuan baru dan pengembangan dari sesuatu yang telah ada untuk dapat eksis dan bertahan hidup ditengah persaingan global. Nuansa inipun masih belum ada di SMK Negeri 1 Banyuasin, karena memang lingkungan pedesaan belum memberikna dorongan bagi siswa untuk berinovasi dan membaca peluang dalam berusaha.
4. Tarikan teknologi (technology pull)
Teknolgi yang berkembang pesat dewasa ini, merupakan tantangan dalam dunia pendidikan dasar dan menengah, terkait dengan penyiapan sumber daya manusia yang berkualitas. Mengikuti perkembangan teknologi maka institusi pendidikan harus berbenah dan mempersiapkan sumber daya yang ada di sekolah. Penerapan e-education merupakan upaya untuk terlibat dalam kemajuan teknologi terutama ICT. Kenyataan di SMK Negeri 1 Banyuasin belum sepenuhinya mampu ikut memanfaatkan kemajuan teknologi untuk pelaksanaan pembelajaran di sekolah, terkait faktor lain yang mempengaruhinya yang dibahas diatas.
C. Mahal: infrastruktur, materi, sosialisasi
Faktor klasik yang menjadi sangat penting dalam implementasi e-education adalah pendanaan. Kadangkala hal ini tidak penting, tetapi ujung msalahnya adalah money atau uang. Mengingat teknologi sangat mahal, baik penyediaan infrastruktur dan fasilitas, sumber daya manusia yang ahli dalam pembelajaran ICT. Hal klasik ini juga melanda SMK Negeri 1 Banyuasin yang sangat sulit untuk pengadaan infrastruktur ICT karena dihadang oleh pendanaan yang minim dan kebijakan Pemerintah dalam mencari sumber dana yang dibutuhkan sekolah seperti Program Pendidikan Gratis yang melarang sekolah memungut dana dari masyarakat.
D. Perubahan Paradigma:
1. Pendidikan sebagai Layanan (service)
Paradigma salah yang masih berkembang di masyarakat termasuk di insitusi pendidikan bahwa Pendidikan adalah menghasilkan tamatan yang ditunjukkan dengan selembar Ijazah. Artinya masyarakat memandang pendidikan dari hasil akhir saja tanpa melihat proses pendidikan yang sangat penting dan utama. Seharus pelaku pendidikan, masyarakat dan Pemerintah memadang pendidikan sebagai proses pemberian pelayanan pendidikan bagi peserta didik.
2. Institusi Pendidikan sebagai Penyedia layanan (service provider)
Institusi pendidikan sebagai penyedia pelayanan pendidian maka seharusnya sekolah termasuk didalamnya tenaga pendidik dan tenaga kependidikan adalah pelayan pendidikan bagi siswa, dan siswa harus dilayani dengan baik oleh guru di sekolah dengan memberikan pembelajaran berupa ilmu pengetahuan, ketrampilan, disiplin, pembinaan akhlak mulia, kesehatan jasmani dan rohani dan seni Hal ini belum sepenuhnya menjadi paradigma bagi institusi pendidikan sendiri, artinya perlu pembangunan paradigma pendidikan bagi pelaku pendidikan sendiri.
2. STRATEGI PENGEMBANGAN E-EDUCATION / E-LEARNING
Dalam upaya mengimplementasikan sekolah sebagai sebuah lingkungan e-Education/e-Learning, merupakan sebuah proses kompleks yang melibatkan para pengelolah sekolah, Pemerintah dan masyarakat maupun investor pendidikan yang ingin terjun didalamnya. Proses meliputi aspek teknis, non-teknis maupun administratif.
Berikut Strategi pengembangan e-Education/e-Learning di SMK Negeri 1 Banyuasin:
1. Penyediaan dan pemanfaatan secara optimal perangkat komputer dalam laboratorium sekolah.
2. Membangun LAN (Local Area Network) disekolah, sehingga lebih meningkatkan efisiensi dan efektifitas penggunaan komputer bagi pendidik dan peserta didik.
3. Membangun koneksi ke Internet melalui Internet Service Provider (ISP) dan mengoptimalkan penggunaan internet di lingkungan sekolah.
4. Pengembangan Web Site sekolah yang disesuaikan dengan kebutuhan dan membentuk tim pengelola yang memiliki komitmen kuat untuk mengelola dan memelihara Web Site sekolah.
5. Membangun Sistem Pembelajaran dan Administrasi sekolah secara Digital, termasuk menciptakan software simulasi praktikum agar dapat diakses oleh masyarakat secara luas, sistem registrasi/database siswa, administrasi uang sekolah, sistem pengolahan nilai akademik dan lainnya.
6. Pelatihan / training bagi pelaksana pendidikan baik pendidik maupin peserta didik. Hal ini akan menentukan tingkat optimalitas upaya pengembangan e-Education/e-Learning.
3. PENERPAN STRATEGI
Optimalisasi / Pengadaan Perangkat Komputer
Untuk mempersiapkan lingkungan e-Education, sekolah sebagai lembaga pendidikan harus mempersiapkan infrastrukturnya. Salah satunya adalah dengan mengoptimalkan pendayagunaan perangkat komputer sekolah yang ada.
Disini, perangkat-perangkat komputer yang dimiliki sekolah diupgrade baik hardware maupun softwarenya ke sistem terbaru untuk mendapatkan performa komputer yang lebih baik. Selain itu dapat pula diadakan pengadaan unit-unit komputer yang tentu saja harus disesuaikan dengan kebutuhan. Upgrade sistem ke standart minimum sistem yang harus dilakukan baik Komputer, Sistem Operasi dan Aplikasi Standar
Local Area Network (LAN) – Jaringan Komputer
Jaringan komputer merupakan sekelompok komputer yang saling berhubungan satu sama lain dengan menggunakan aturan / protokol komunikasi melalui media transmisi, sehingga dapat saling berbagi data, proses dan informasi. Dapat menggunakan resource (hardware/software) secara bersama-sama.
Kerahasiaan suatu bentuk data atau informasi bersifat fleksibel sesuai dengan kebutuhan. LAN yang digunakan juga akan menentukan tingkatan proteksi pada keamanan jaringan dari sistem dengan menggunakan spesifikasi firewalls tertentu, serta akan melakukan upaya periodik dalam menilai tingkat penetrasi jaringan melalui internet dari sistem dan menetapkan prosedur spesifik untuk proteksi sistem.
Koneksi Internet & Optimalisasi Penggunaan Internet
Internet merupakan suatu jaringan komunikasi tanpa batas yang melibatkan jutaan komputer yang tersebar di seluruh dunia. Dengan menggunakan protokol Internet (TCP/IP) dan didukung oleh media komunikasi seperti satelit dan paket radio, maka Internet telah memungkinkan komunkasi antar komputer dengan jarak tidak terbatas. Jenis-jenis layanan dalam jaringan Internet untuk e-Education/e-Learning dapat berupa Email, Chatting,File Transfer Protokol.
Pengembangan Website Sekolah
Setelah koneksi internet, selanjutnya perlu membuat Web sekolah dalam upaya memperkenalkan sekolah dan menjalin komunikasi dengan sekolah lain. Pembuatan Web ini ditugaskan kepada siswa melalui praktek di Labor Komputer dan selalu meng update web sekolah.
Membangun Sistem Pembelajaran Administrasi Sekolah secara Digital
Secara berkala, sistem pembelajaran di sekolah dibagun secara digital dengan menggunakan ICT di kelas dan di labor. Termasuk sistem Administrasi kesiswaan, kurikulum, sarana, keuangan dan penilaian dilaksanakan menggunakan sistem digital dan terpadu.
Pelatihan / training
Hal yang sangat penting dalam Strategi implementasi e-education ini adalah pelatihan bagi seluruh komponen sekolah, mulai dari Kepala Sekolah hingga siswa agar tahu, memahami dan mampu melaksanakan e-education yang didasarkan atas ICT, sehingga penerapan ini dapat berjalan dengan baik dan bermanfaat bagi institusi pendidikan secara keseluruhan.
III. Penutup
1. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat dirumuskan adalah :
A. Penerapan e-education di institusi pendidikan masih memiliki problem, sehingga menghambat sulit dilaksanakan. Problem tersebut seperti :
§ Tenaga pendidik yang kompeten belum tersedia
§ Fasilitas dan infrastruktur ICT belum tersedia dan mahal
§ Dinamika Kateristik pendidikan yang berubah tidak seimbang dengan perubahan kemajuan IPTEK
§ Paradigma Pendidikan yang tidak sesuai dengan perkembangan kebutuhan pendidikan sekarang.
B. e-Education dapat diterapkan di Institusi Pendidikan dengan memerlukan infrastruktur, fasilitas dan sumber daya manusia sehingga dapat memberikan manfaat yang besar bagi kemajuan pendidikan berbasis ICT di sekolah
2. Saran
A. Agar setiap institusi pendidikan menerapkan e-education/e-learning sebagai bagian dari kemajuan ilmu pengetahuan dan tenologi untuk memberikan pelayanan terbaik bagi siswa dalam proses pembelajaran.
B. Penerpan e-education memerlukan dana yang besar dalam pengadaan fasilitas ICT, maka semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan ikut serta dalam investasi memajukan pendidikan dan sumber daya manusia Indonesia.
Daftar Pustaka / Bahan Bacaan
1. Proporsal Pelaksanaan e-education di Kabupaten Klaten, 2009
2. Globalisasi, Sistem Pembelajaran dan Teknologi Informasi Komunikasi. Rhiza S. Sadjad,Department of Electrical
3. Standar Isi, Mata Pelajaran KKPI SMK, BSNP, 2003,
4. Kurikulum SMK Negeri 1 Banyuasin, 2009